kata

on Selasa, 29 Maret 2011

Ternyata harga sebuah kata bisa sangat mahal...........Bahkan melebihi harga barang termahal yang pernah kita beli.

Aku, Kenangku, dan Jangkauku

on Jumat, 25 Maret 2011

Aku, Kenangku, dan Jangkauku

Oleh Deni Suharyanto, S.Pd.

Sudah seperempat abad aku menginjakan kaki di dunia. Manis, asam, pahit, dan hambar, sebagian pernah aku rasakan. Dari para senior aku belajar menghadapinya. Maju, mundur, bahkan stagnatis pun pernah aku lakukan ketika menghadapinya. Tak ingin aku mengulang waktu, buat apa, kembali lagi ke sana? Tak berguna…pemimpi sejati, aku bukan itu!

Sabtu tengah malam, 13 April, 25 tahun yang lalu, aku dipercayakan oleh-Nya untuk mulai nafas di dunia. Dengan bantuan seorang bidadari yang merawatku, seorang ksatria yang melindungiku, dan ajudan-ajudan yang membantuku, aku bisa menikmati hidupku. Ketika usiaku menginjak 18 tahun, aku terjerat permasalahan-permasalahan yang membebaniku, pikiran dan jasadku.

Dua hari sudah aku lulus dari sebuah SMA terkemuka di kotaku yang tak pernah banjir. Aku termenung di pinggiran kolam di belakang rumahku, menatapi ikan yang terbang dalam dunia mereka, bebasnya, fantastis. Aku udah lulus, mau apa lagi? Kerja? Bisa apa aku, kuliah? Kemana? Bakal keterima gitu? Bbiinguuung ...

(Prang…) suara itu membuyarkan lamunanku...

Ahh....bertengkar lagi...

“Kenapa sih mereka, gak tau apa, anaknya lagi kebingungan”, gumamku.

Yah, sudah 2 bulan ini orangtuaku sering beradu kata. Gara - gara setan itu! Setan yang merayu ayahku, sehingga mengkhinati ibuku. Ibuku sakit, adiku sakit, aku....sakiiittt...

Kenapa hal ini terjadi ketika aku akan menentukan langkah hidupku, KENAPA???

Keesokannya, ketika pengangguran ini masih ada dalam buaian mimpi...

“Rooonallld...Ronald...ada surat testingan...”

suara itu, suara ibuku, menamparku dari buaian mimpi..

“Emm....yyaaa...”, jawabku.

“Heh...Hwuuaahh...”,aku membuka surat itu sambil menguap.

“Hhaaahhh....”

“Yeehhh....”

“Asyikkk...”

“Aku keterimaaaa....”, teriakku ketika mengetahui isi surat itu.

Ternyata itu bukan surat testingan. Itu surat pemberitahuan bahwa aku dapat beasiswa untuk kuliah di Utrecht, salah satu universitas terkemuka di Belanda.

“Mmama...ma...mama, aku keterima kuliah di Utrecht Belanda”.

Ibuku yang sedang mencuci baju, kaget buka kepalang. Ia langsung memelukku dengan pandangan yang berkaca kaca, menahan tangis kebahagian.

“Ayah mana, bu? Adik mana?”, tanyaku dengan semangat

“Adikmu sekolah, Ayahmu....pergi ke rumah “DIA””, jawab ibuku

Dia?

Yah aku tau,

Wanita tak tau diri, wanita bejad, makhluk yang mengganggu kami.

Aku mau susul ayah, bu...

Aku mau ngambil ayah lagi, bu

Aku mau keluarga kita bahagia sebelum kepergianku...

Segera ku bersiap-siap menemui ayahku, ayah sedang terbuai rayuan setan.

Yah, aku tau, aku tau, tempat mereka sering bertemu.

30 menit sudah aku mengendarai motorku, aku tiba di depan restoran sunda dengan gurame sebagai makanan andalannya.

Itu mobil ayah, aku memarkirkan motorku. Itu mereka, yah, aku melihat ayah yang aku sayangi, untuk kesekian kali, berdua dengan wanita, bagai remaja yang terpanah asmara untuk pertama kali. Hatiku tersayat lebih dalam, aku harus beranikan diriku, aku harus bisa. Aku pasti bisa.

Kali ini aku memberanikan diriku menemui ayahku dengan wanita pengganggu di sisinya.

“Yah, sedang apa?”, tanyaku dengan muka berhias senyuman mesem.

“Haah, Nal. Ronalld, sedang apa kamu di sini? Dari mana kamu tahu ayah di sini?”, jawab ayahku

“Eh, Ronalld, apa kabar?”, sapa wanita itu

Tak aku tanggapi

“Najis aku menanggapimu”, gumamku

“Yah, Ronalld ada berita”, lanjutku

Sambil mencoba menahan butiran air dari sepasang mataku, aku melanjutkan ucapanku

“Ronalld dapat beasiswa, beasiswa dari Utrecht, di jurusan pendidikan matematika”

Aku mencoba tersenyum ketika mengatakan itu…Susah…Tapi aku bisa

“Yang bener, Nal?”

“Iya Yah, ini suratnya”

Ayah lalu membuka surat beasiswa itu, membacanya dengan seksama

“Wahh hebat anak ayah ini, kamu mau hadiah apa? Ayo sebutkan? Ayo…”

Aku terdiam, dadaku sesak melihat ayahku bersama wanita itu, tenggorokanku seakan tertusuk ratusan paku, sakittt…

“Emmh…beneran, Yah”.

“Tentu saja, ayo katakan!”

Ayahku lupa keadaan dia sekarang, ini kesempatanku

“Yah…Satu keinginan Ronalld. Ayah kembali ke Ibu, tinggalkan wanita pengganggu ini!”

“Hey…Apa kamu bilang”, wanita itu mulai berucap lagi

“Saya harap Anda diam, ini bukan urusan Anda. Seharusnya Anda diam saja, Diam adalah kewajiban Anda. Sebelum saya bertindak menanggapi Anda yang tidak mau diam. Saya tidak mau itu. Jadi, diam saja Anda!”

Rangkaian kalimat itu terucap begitu saja dari mulutku, bendungan emosiku mulai bocor melihat dan mendengar wanita itu

“Sudah…sudah…”, lerai ayahku

“Ayo, Ronalld kita keluar sebentar. Kita bicarakan di luar…”

Kami meninggalkan wanita itu, dia hanya duduk diam, memandangi kami dengan mata sinisnya. Aku tak peduli.

“Yah, Ronalld ingin ayah rukun lagi dengan ibu. Ronalld ingin sebelum pergi ke Belanda, merasakan keluarga kita utuh lagi, seperti dulu…bahagia”, pintaku

Ayahku terdiam, mendengar ucapanku…

“Ayah tak tau, Nal”

Dengan tenggorokkan yang semakin sakit, aku melanjutkan ucapanku. Kali ini harus tajam, tekadku.

“Emm…Emangnya ayah tidak bangga, mempunyai anak secerdas aku. Buktinya, sekarang saya dapat beasiswa, bukan untuk universitas di dalam negeri, tapi universitas di luar negeri! Utrecht itu berstandar internasional, lho. Dari 100 siswa berprestasi di sekolah, hanya 5 orang saja yang diterima”.

Ayahku semakin terdiam mendengar ucapanku

“Kalau lulus dari sana, langsung diambil oleh pemerintah. Dapat jabatan di depertemen pendidikan nasional. Ayah mau, aku tak mengakui ayah ketika sudah jadi orang sukses! Ayah mau?”

Ayahku mulai melihat wajahku, wajahku yang memerah, akibat campuran semangat, amarah, dan kebahagian. Sekitar tiga menit kami hanya bertatapan, tanpa sepatah kata pun keluar dari mulut kami

“Ronalld...”

Tak kusangka, ayahku langsung memelukku, memeluk dengan erat.

“Ayah tak mau kalo dibuang oleh anak–anak ayah, ayah tak mau. Bukan jabatan atau harta kalian, tapi ayah tak mau kehilangan kasih sayang dari kalian..”

Tak terasa, aku pun memeluk ayahku, butiran air mata yang aku tahan, tak terbendung lagi, mengalir melewati pipiku…

“Ronalld dan ade juga gak mau Yah..”

“Kembali lagi ke Ibu, ya, Yah, kita bentuk lagi keluarga yang bahagia, melebihi yang dulu…”

Ayahku melepaskan pelukkannya, dia menatapku sebentar lalu pergi ke dalam restoran, menemui wanita itu. Dari luar aku melihat ayahku ngobrol dengan wanita itu, wanita itu mulai menunjukkan emosinya, ayahku tak peduli. Beberapa saat kemudian, ayahku keluar, wanita itu hanya duduk lesu.

“Ayo kita pulang, Nal”

Setibanya di rumah, hujan air mata menyelimuti kami. Bukan air mata kesedihan seperti dulu, ini air mata kebahagiaan. Tak beberapa lama kemudian, adikku pun bergabung. Sungguh sejarah hidup yang tak mungkin aku lupakan.

Keesokan harinya, selama seminggu, aku dan empat rekanku sibuk mempersiapkan surat-surat untuk melengkapi persyaratan beasiswa.

“Beres sudah akhirnya, yeeaahh….kita ke Belanda besok, ha..ha..ha”, teriak kami

“Tidak”, kata guruku

“Kalian akan kuliah persiapan dulu di Universitas Sriwijaya selama setahun, setelah itu baru kalian ke Belanda”, lanjutnya

“Aahhh...”, teriak kami

“Tak apa yang penting kita bakal ke Belanda, satuju barudak”, ucapku

“SATUJU”, balas mereka

Kita pun tertawa bersama–sama. Yah itulah luapan kebahagian kami.

Dalam program beasiswa ini, saya dan Budi mengambil jurusan mathematic education, Indah dan Aryo mengambil statistic, dan Taka mengambil psychology. Aku mengambil jurusan ini karena aku ingin menjadi guru matematika, seperti guru SMAku. Karena bantuan beliau, saya mendapat ini.

“Nal…siap–siap buat besok, ya?” tanya ibuku

“Iya, bu”, jawabku

“Ayo kita makan dulu”, ajak ibuku

Ketika di ruang makan, aku kaget. Selain ada ayah dan adikku, juga sudah berkumpul nenek dan semua saudara–saudaraku. Aku terharu, tapi aku tak boleh nangis. Sungguh makan malam yang berkesan dalam, sangat dalam.

Besoknya, aku diantarkan oleh semua anggota keluargaku ke bandara. Di sana sudah menunggu teman–temanku. Mereka juga diantar oleh keluarganya masing–masing, tak kalah banyak dari keluargaku.

Setelah menunggu satu jam, akhirnya kami pun siap berangkat. Aku berpamitan kepada seluruh keluargaku. Selamat tinggal semuanya, aku akan pergi untuk belajar, untuk kalian. Dari kejauhan, aku bahagia melihat ayah, ibu, dan adikku berkumpul. Kami jadi keluarga yang bahagia, lagi.

Universitas Sriwijaya,kami datang…

Sudah hampir setahun kami menimba ilmu di Universitas Sriwijaya. Di sini, selain mendapat materi sesuai jurusan yang kami ambil, kami pun mendapat informasi mengenai Belanda dan juga kursus bahasa Inggris. Sungguh pusing, beneran, pusing. Tapi kami bahagia. Kami belum pernah pulang ke rumah, untuk mengobati rasa rindu, video call lah yang membantu kami. Alhamdulillah, aku melihat keluargaku bahagia, bahkan sekarang aku mempunyai adik baru. Senangnya. Teringat lagi masa kelam itu, ahh, tak peduli aku. Biarlah itu berlalu.

Kuliah hari ini hampir selesai, kemudian Mr. John masuk ke kelas kami menginformasikan mengenai keberangkatan kami ke Belanda.

Good afternoon all, I have information for you about scholarship program to Utrecht. We will go to Dutch on next Tuesday, before that, you can see yours family for 3 days before we go to Dutch”, kata mr. John

“Yeeaaahhhhhh”, kata kami

Ok, I’ll continue the information. We’ll go to Dutch from Jakarta, so prepare yours self. All about preparation for that, I’ve include it in this letter. Please read it carefully”, lanjut mr. John.

Akhirnya kami mempunyai waktu bertemu keluarga kami, sebelum berangkat ke Belanda, karena tiga tahun berikutnya, kami pasti tidak bisa bertemu. Keesokan harinya, kami menyempatkan membeli oleh–oleh untuk keluarga kami. Dua dus penuh aku persiapkan. Malamnya saya menyempatkan diri melakukan video call dengan ibuku

“Bu…Ronalld besok mau pulang”

“Yang bener? Mau dipasakin apa? Ayo apa, jawab ibuku dengan semangat”

“Emmm…apa ya…Oh iya sambel goreng pete dan gurame goreng pedaaasss banget…”

“Baik,say”.

“Asyikk…”

“Ayah mana?Adik?”

“Oh, ayahmu lagi ngajak adikmu jalan–jalan ke plasa..Ada yang harus dibeli buat tugasnya. Ayah sekarang sudah berubah, lebih perhatian dengan keluarga”.

“Syukurlah bu”

Tak terasa satu jam berlalu aku habiskan untuk mengobrol dengan ibuku. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, aku pun segera membaringkan jasadku di kasur, karena jam 8 pagi besok aku harus segera terbang dengan burung besi, menuju istanaku.

Di pesawat, aku sudah membayangkan apa yang akan aku lakukan di kampung halamanku. Aku catat semua kegiatan yang aku lakukan di buku harianku

“Baiklah, aku akan main ke rumah bi Enih, bi Sisi, dan tentu saja ke rumah Eyang, terus apa lagi ya,…, oh iya, hiking ke gunung bareng Hira, Ripan, Andis, dan si kecil Wiyi, terus ngasih makan si lobi, lobster – lobster kesayanganku.Uuuhhhh, tak sabar aku”, kataku dalam hati

Ini gang menuju rumahku, di daerah yang enggan ku ingat. Selangkah demi selangkah, aku mendekati istanaku dengan pagar berwarna hijau. Aduh berat juga ya barang bawaanku, tak apalah, aku senang.

Di depan pagar rumah, aku melihat sesosok bidadari yang sedang menyapu halaman, itu ibuku. Ksatriaku pun ada, sedang asyik dengan ayam kesayangannya.

“Iiiiiiiiiiiiiibbbbbbbuuuuuuu, makan dengan apa?”

Aku tau suara itu, bonekaku yang lucu, itu adikku. Tak kuasa aku menahan bahagia, aku langsung berlari menuju ibuku, aku langsung memeluknya

“Ibuuu”, Ronalld pulang

Ibuku kaget, ayahku langsung melepaskan ayamnya

“Ronalld…Ronalld…”, hanya itu yang diucapkan ibuku sambil balas memelukku

Air matanya mengucur, keringatnya semakin deras. Ayahku ikut memelukku, adikku keluar dari rumah, memelukku juga. Oh, so happy I am.

Tak terasa, dua hari sudah aku lewatkan, berbagai kegiatan yang ku rencanakan sudah berhasil semua ku lakukan. Besok hari terakhir aku lewati di daerahku, Dutch…here I come.

“Bu, mau beli tela - tela dulu”, kataku

“Nitip A, rasa pedas manis ama planet lemon”, timbal adikku

“Uangnya mana?”

“Uuh...traktir dwong”

“Iya,iya”

Aku segera naik si merah, motor kesayanganku, aku melaju si merah menuju warung tela-tela, dekat alun-alun kotaku. Warungnya ada di sisi jalan cukup sempit tapi sering dipenuhi pembeli, warumg ini mulai buka jam 4 sore. Satu belokan lagi aku sampai,

dhuuuaakkkk.....prang.....

.....

.....

“Wey...ada yang tabrakan...tolong...cepat tolong...”

itu suara terakhir yang aku ingat...

“Emmh...aduh pusing sekali kepalaku”

Aku membuka mataku, langi–langit berwarna putih yang aku lihat. Kenapa ini, aku...tanganku terasa lemah, aku tidak merasakan kakiku. Ada apa ini? Aku menoleh ka arah kiri,selang infus menuju tanganku. Tangan dan kakiku terbelit perban. Kepalaku juga...kulihat ibuku tertidur di samping tempat tidur, adik dan ayah tertidur di lantai kamar beralaskan karpet bulu bercorak si raja hutan.

“Bu…bu…”, panggilku dengan suara lemah

Kenapa ini, suaraku lemah sekali, seakan–akan tenggorokkan ku tertusuk ribuan paku, perih!

Ibuku terbangun mendengar rintihanku memanggilnya.

“Eh, Ronalld…dah bangun Nal”.

“Ronalld kenapa, bu…?”

Setetes air mata mulai mengalir dari kedua mata ibuku, semakin terlihat kalau beliau sudah lama menangis…menangis meratapi keadaanku.

“Emm…kenapa, Nal?…Oh…emmhhh…”, ibuku terlihat tersedu – sedu menjawab pertanyaanku.

“Kamu kecelakaan, Nal, di pertigaan dekat alun-alun”.

Ya, aku mulai ingat…tak terasa air mataku perlahan pergi dari sudut mataku menuju pipi, tak deras memang, tapi terasa menyakitkan. Apalagi ketika kuingat bahwa besok aku sudah harus pergi ke Jakarta menuju negeri kincir angin. Cobaan apalagi ini, AKU GAGAL……

Semakin deras air mata keluar dari kedua mata ibuku ketika melihat aku menangis.

“Sabar, ya, Nal, sabaarrr…”, ucap ibuku disertai dengan tangisan

Aku tak berkata lagi…akhirnya tertidur dengan mata lebam dan ditemani kesedihan yang luar biasa bagiku.

Keesokan paginya, terdengar pembicaraan antara ayah dan dokter

“Anak bapak harus istirahat sekitar satu bulan”

“Bagaimana keadaan anak saya sekarang, dok?”

“Emm…tulang kaki dan tangan anak bapak retak, dan ada beberapa radang di otot perut dan kapalanya”, balas dokter sambil melihat laporan pemeriksaan dari asistennya

“Seriuskah, dok?”

“Tidak, tidak terlalu serius, banyak istirahat dan jangan terlalu banyak bergerak”.

Tersentak aku mendengar pembicaraan itu. Tak lama setelah dokter dan asistennya pergi, ibu, ayah, dan adikku mendekatiku. Mereka mulai menghiburku.

“Bu…Yah…, tolong hubungi pihak kedutaan Belanda. Nomornya ada di handphone Ronalld, tolong urus beasiswa Ronalld”, pintaku dengan suara lemah.

“Iya…., tenang aja”, jawab ayahku.

“Ah…gagal deh, dapet beasiswa…”

“Tenang aja A, nanti pasti ada rezeki yang lain”, timbal adikku

Aku hanya tersenyum mendengar perkataan adikku. Bisa juga dia bijaksana.

Jam menunjukkan jam 10 pagi, aduh bosan banget di sini. Tak ingin aku mengingat kecelakaan itu. Terbayang olehku, teman - temanku sekarang pasti on the way to Dutch. Ah, sudahlahh…tak usah ku ingat lagi, bukan rezekiku. Sekarang aku harus segera pulih, harus segera berusaha lagi.

Hari–hariku mulai ku lewati di rumah sakit negeri terkenal di kotaku, di ruang Bougenville no.13. Dokter dan suster datang dan pergi sesuai jadwal, mengawasi perkembangan kesehatanku. Penjenguk pun tak mau kalah, mulai dari saudara–saudaraku sampai teman–teman orangtuaku. Hal yang paling ribet adalah mandi dan buang air, sungguh tak mau aku ulangi lagi. Sudah 25 hari aku di sini, perban dari kaki dan tanganku sudah dilepas, tinggal perban yang ada di kepala yang masih betah. Suaraku pun sudah bertenaga dan tidak ada lagi perih–perih di perut dan dadaku.

“Bu, kapan pulang, sih? Udah bosan nih, di sini”

Ibuku tersenyum mendengar pertanyaanku

“Kita tanya dokter, ya, sebentar lagi ke sini”.

Ketika dokter datang dan memeriksaku, informasi yang ku tunggu pun terlontar darinya.

“Anak ibu bisa pulang besok, sekarang saya akan buka perban dari kepalanya”, ucap dokter itu yang kemudian melepas perban dari kepalaku

“Di rumah jangan melakukan pekerjaan yang berat–berat dulu”, lanjutnya

Aku tersenyum mendengarnya,

“Kalau sore ini pulang, gimana, dok?” tanyaku bersemangat

“Sudah tidak pusing lagi?”

“Tidak”, jawabku dengan tegas

“Sebentar saya periksa lagi, ya”.

“Kalau memang tidak ada keluhan lagi, saya pikir bisa pulang nanti sore”.

“Yeah”, kataku

Ibuku hanya tersenyum melihat tingkahku

Setelah memeriksaku, dokter dan asistennya pergi meninggalkan kami

“Ayah dan adik mana, bu? Kita pulang hari ini”.

“Ayahmu kan kerja, adikmu sekolah. Sebentar ibu telp ayahmu dulu, untuk mempersiapkan kepulanganmu”.

“Oke”.

Setelah mengurus administrasi di rumah sakit, akhirnya…rumah…….here I come, haha..

Aku pulang dan aku bahagia

Hari-hari berikutnya aku lewati dengan istirahat, bermain dengan keluargaku dan sesekali membaca buku matematika. Aku agak trauma sebenarnya ketika kuingat kegagalanku mendapat beasiswa, aku jadi malas membaca apalagi berlatih bersama pelajaran-pelajaran yang dulu menjadi sahabatku melewati waktu di dunia. Tapi, ada rasa rindu untuk bercengkrama dengan mereka lagi dan rasa itulah yang mengalahkan rasa malas dalam diriku.

Lalu suatu hari suatu mukjijat datang kepadaku, ya, aku ingat, waktu itu hari Rabu, pukul 08.57 WIB. Ayahku menelpon dari kantornya, beliau memberitahukan bahwa ada tes CPNS untuk jenjang pendidikan SMA sebagai tenaga administrasi di sekolah. Aku harus ikut. Itu tekad dalam hatiku, aku tidak mau jadi pengangguran, sampah masyarakat.

Setelah mendapatkan informasi itu, aku mulai mempersiapkan diri. Aku belajar 10 jam setiap hari, aku tidak mau gagal, aku tidak mau direndahkan oleh mereka, orang yang sok ngaku jadi tetanggaku. Itu yang aku tidak sukai dari lingkungan ini.

Satu minggu, ya, hanya satu minggu waktu yang diberikan untuk mengurus administrasi untuk mengikuti tes CPNS. Tidak akan ku sia-siakan. Emm, meskipun harus berurusan dengan orang bermata hijau dan hedonis. Tak aku pedulikan, yang penting aku harus berhasil.

11835 0036, itu nomor tes yang aku dapatkan. Aku kebagian tes di SMA ku dulu, waduh…malu juga bertemu dengan guru-guruku. Never mind…lifes must go on.

Besok aku tes, malam ini aku gak mau belajar. Pusing juga belajar terus. Tidur, ah. Besoknya, setelah shalat subuh, aku senam di taman belakang rumahku, lumayan buat penyegaran menjelang tes.

“Bu, Yah, Dik, do’akan, ya,”pintaku pada keluargaku

“Semoga berhasil, Nal. Do’a kami bersamamu,” jawab ibuku

“Smangat, A,” jawab adikku

“Kamu pasti bisa, Nal”, lanjut ayahku

Aku berangkat dan aku pasti berhasil. Tak ada yang bisa menghalangiku.

Empat jam sudah aku mengikuti tes, ketika keluar dari ruangan…waduh silaunya ketika melihat lingkungan di sekitarku. Mungkin aku terlalu serius ketika menjawab soal-soal tes tadi. Ketika tiba di rumah, tenagaku sudah habis tapi aku malas makan, pikiranku dipenuhi dengan soal-soal dan kecemasanku menanti hasil tes. Lebih baik aku tidur saja. Tidak ada yang mengganggu. Mereka sudah memaklumiku kali, ya, hehe…

Ketika kelopak mataku terbuka, ternyata sudah jam 7 malam. Waduh laparnya perut ini, makan dulu, ah.

“Gimana tes tadi, Nal?” tanya ayahku

“Emmm…susah juga soalnya”.

“Tenang A amah pasti bisa,” kata adikku

“Iya, kamu pasti lulus, Nal”, lanjut ibukku

“Insya allah, semoga saja”, jawabku

Hari demi hari ku lalui dengan ditemani rasa cemas, teman baruku. Cemas, ya, cemas menanti hasil tes yang akan diumumkan di surat kabar. Menurut pengumuman, informasi mengenai kelulusan tes CPNS akan diumumkan dua minggu setelah tes dilaksanakan di surat kabar daerah. Pasrah dan yakin bahwa aku akan lulus, itu yang ada dalam pikiranku.

Besok pengumuman tes, waduh semakin deg-deg an aja. Aku tidak enak makan, susah tidur, pokoknya gelisah yang aku rasakan. Jam dinding masih menunjukkan pukul 04.30 pagi.

“Ronalld, Ronalld, bangun, bangun, cepat”, panggil ayahku

“huuahh…hhmmm…hhehh, iya”, jawabku

Hasil tes…hasil tes…aku langsung teringat hasil tes, aku segera membuka pintu kamarku dan menuju ayahku, di sana sudah ada ibu dan adikku yang sedang melihat pengumuman tes di koran.

“Ronalld, kamu lulus! Lihat, ini pengumumannya”, jawab ayahku dengan semangat

“Manaa...”

Aku langsung melihat pengumuman di koran, ya, di sana sudah tercantum namaku. Aku lulus. Aku lulus. Ya Allah…aku lulus. Terimakasih. Tak terasa tubuhku langsung loncat sambil mengacungkan Koran dan berteriak AKU LULUS!

Selesai